cerita bisnis

Hidup Itu Memilih

#CERITALUKILUCK1

“Hidup itu memilih”

Sejujurnya, Saya bisa mendengar kalimat tersebut dari mulut siapapun.

Ketika diamati, kiranya tidak ada yang istimewa. Tidak puitis, tidak pula menyentuh.

Jikalau banyak penulis bilang bahwa kata-kata itu sakti, Saya kira tak sepenuhnya benar.

Saktinya sebuah kata hanya terbentuk dari situasi dan keadaan yang mendukung.

Nasihat patah hati mana mampu menggetarkan hati seseorang yang sedang kasmaran?

Sebaliknya, mana mungkin sajak cinta mampu mengembangakan senyum seseorang yang tengah retak hatinya.

Dan dalam keadaan bimbang, rangkaian tiga kata tadi berhasil menggetarkan hati seorang karyawan yang memiliki bisnis sampingan.

Rangkaian tiga kata yang terucap dari mulut seorang pengusaha properti sekaligus wahana wisata.

“Hidup itu memilih”

Mau tidak mau, memang harus begitu.

Boleh saja memaksakan mengambil semua pilihan. Tapi, apakah akan jadi baik?

Menghakimi bahwa hasilnya akan berantakan, tentu tidak adil.

Namun, berdasar pengalaman. Tanpa melepas salah satu pilihan, akan sangat sulit untuk menjaga semuanya dalam keadaan yang baik-baik saja.

Belok ke kiri atau ke kanan.

Pasangan atau selingkuhan.

Juga perkara bisnis atau karir.

Ya, pada akhirnya Saya memang harus memilih.

Saya memilih Lukiluck, lalu meninggalkan karir.

Jika dirunut, sebenarnya ini bukan untuk yang pertama kali.

Benar, dulu sudah pernah.

Kali ini lebih ada keyakinan, tak akan sama seperti dulu. Yang hanya berpegang pada idealisme rapuh.

Leave a Reply

%d bloggers like this: